20110125

dynamic duos

farid stevy asta, i have enough i have too much, 2008, 200x170, acrylic on canvas
baru sekitar 2 tahun setelah saya mulai beraktifitas seni rupa dalam ruang pamer galeri, tepatnya pada desember 2008 , saya mendapatkan kesempatan untuk berpameran tunggal yang mengambil tajuk: Dynamic Duos di langgeng gallery Magelang. Saya membuat 10 karya personal dan 9 karya kolaborasi dengan teman-teman seniman. Beberapa karya painting yang terpamerkan dan karya-karya lama saya dapat di lihat di tautan ini. Dan berikut adalah kuratorial pameran yang di tulis oleh Rain Rosidi.

    Dog dog dog, working like dog,breathing like dog, playing like dog
 
   Sebuah kalimat provokatif yang tertera di salah satu pembuka emailnya kepada saya. Farid sering menggambarkan dirinya sebagai seekor anjing, sebagaimana karakter-karakter dirinya dalam lukisannya. Sebuah penggambaran yang ‘raw’terhadap cara dia merespon lingkungan sekitarnya. Farid Stevy Asta, pemuda kelahiran Wonosari, 28 tahun yang lalu ini adalah salah satu perupa yang belajar Disain Komunikasi Visual di ISI Jogjakarta. Latar belakangnya ini juga akan menarik untuk dibicarakan, karena Farid banyak mengadopsi idiom-idiom disain dalam lukisannya. 
    Farid memulai kerja seninya di jalanan. Dengan membuat grafiti, pada akhirnya dia lebih banyak bergaul dengan teman-teman perupa di lingkungan yang ‘bukan disain’. Salah satu seniman Jogjakarta yang menjadi influence besarnya adalah Eko Nugroho dan teman-temannya, yang dibesarkan dalam lingkungan seni lukis dan grafis (seni murni). Sebuah karyanya yang akhirnya menjadikannya berubah haluan adalah karyanya yang berupa sebuah teks yang berbunyi “The Future Starts Now”. Karyanya itu diterima dan dipamerkan dalam even Jogjakarta Biennal. Dari karya inilah, Farid mengakui perubahan haluan keseniannya. Dia merasa menemukan sebuah kerja kreatif yang lebih sesuai dengan karakter dirinya. 
    Rencana pameran ini dilakukan setelah pembicaraan dilakukan antara Farid, pak Dedi Irianto (Galeri Langgeng) dan saya. Waktu itu baru saja Farid menyelesaikan pameran bersamanya “Utopia Negativa” dengan beberapa seniman muda lain seperti Bambang Toko Witjaksono, Arie Dyanto, Wedhar Riyadi, Uji Handoko, dan lain-lain. Pada saat itu, Farid membawa dua buah lukisan personal dan sebuah lagi lukisan hasil kolaborasinya bersama Wedhar Riyadi dan Terra Bajragosha. Karya lukisannya berhasil mengesankan pencinta seni, dan selanjutnya saya dan pak Dedi merencanakannya untuk berpameran tunggal di Galeri Langgeng, Magelang.

Farid Stevy Asta dan Jogja Agro Pop
    Salah satu yang berkembang di art scene Jogja adalah berkembangnya kerja kreatif seni rupa yang sangat dekat dengan perkembangan budaya populernya. Anak-anak muda mengembangkan industri kreatifnya sendiri dengan bentuk-bentuk ruang dan industri alternatif, seperti distro, ruang galeri, studio, dan manajemen musik dan seni. Kerja kreatif mereka menciptakan ruang kreasi yang mempunyai kekhasan yang berbeda dengan kerja seni lainnya. Kerja kreatif mereka lebih dekat pada hobby dan gaya hidup kesehariannya. Salah satu yang sekarang sangat menonjol adalah kerja di bidang seni rupa. Dalam seni rupa, muncullah satu kecenderungan yang unik perpaduan berbagai kerja kreatif dalam dunia anak muda, seperti dari musik, disain, street art, DJing, komik, dan gaya panggung. Panggung dan pesta anak muda menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan seni rupa dengan ciri ini. Dan yang terjadi pada saat ini adalah, beberapa dari mereka menerjuni dunia seni secara serius dengan mengerjakan karya-karya lukisan dan patung.
    “Jogja Agro Pop” adalah sebuah istilah yang iseng ditasbihkan pada sekelompok seniman muda yang dijiwai oleh spirit gaya hidup urban tersebut. Di Jogjakarta, spirit urban ini muncul di tengah kelompok anak muda yang berada di batas yang unik antara semangat urban yang kosmopolit dengan kehidupan lokal yang masih cenderung rural. Mereka adalah generasi yang sangat sadar akan keberadaan dirinya di tengah perubahan arus global, sembari sesekali menengok keberadaan dirinya di tengah kehidupan lokal Jogjakarta. Jogjakarta bukanlah sebuah kota besar seperti dengan Jakarta, tetapi lebih menyerupai kota kecil (atau bahkan kampung besar) dengan tradisi yang kuat. Hanya saja, dari kota ini, para anak mudanya lebih leluasa untuk bermain dalam jaringan internasional, lewat medium internet, jaringan ruang seni, dan even-even seninya. Dari kampus-kampusnya, juga terjadi interaksi yang intensif dengan mahasiswa asing dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Di kota ini, kerja kreatif terus bertumbuh, dengan atau tanpa campur tangan kebijakan penguasa dan pasar mapan.
    Di kota ini pula, Farid bekerja tidak hanya pada karya-karya seni yang mapan. Farid lebih akrab dengan kerja seni yang lebih didasari oleh semangat bermain dengan hal-hal yang disukainya, seperti membentuk grup band, menulisi grafiti di kota Jogjakarta, dan bersama teman-temannya mengerjakan berbagai hal kreatif. Demikian pula pada kerja disain visual yang masih tetap digelutinya. Dari sinilah, semua karya lukisannya mendapat pengaruh terbesarnya. 
    Benang merah dari para perupa muda ini tidak bisa ditengarai pada satu gejala visual saja, misalnya komik, grafiti atau ilustrasi. Pada komunitas pergaulan ini, ada hal-hal lain yang menghubungkan mereka di luar faktor visual, misalnya interaksi mereka dalam bidang musik. Selain itu, mereka juga dipertemukan dalam interaksi-interaksi di antara mereka yang tidak saja berupa kerja kreatif visual, tetapi juga kesamaan hobby dan pertemanan. Itulah yang menjadi spirit dari komunitas ini, yang sering disebutkan sebagai mempunyai kesamaan ‘attitude’

Farid dan kerja kolaborasinya

collaboration, Farid Stevy Asta & Wimo Ambala Bayang, 2008, 110 X 110, digital print on canvas
    Farid membagi projek pamerannya ini dalam dua sesi, sesi pertama adalah sesi kolaborasinya bersama sebelas teman bermainnya dalam dunia seni rupa. Sesi kedua adalah karya-karya pribadinya. Sesi kolaborasi itu bertemakan pasangan-pasangan legendaris yang mewarnai dunia populer. Ide pameran ini pertama-pertama bersifat teknis dan cenderung taktikal. Farid yang walaupun pernah menjadi peserta even-even besar seni rupa di tanah air, tetap merasa sebagai pendatang dan orang yang berada di wilayah asing dalam jagad seni rupa kontemporer. Perasaannya sebagai ‘alien’ ini, kemudian memberinya ide untuk membuat pameran dengan menyertakan teman-temannya sesama art scene di Jogjakarta untuk mengusung ide kolaborasi
    Pertimbangan yang lain adalah, bahwa Farid ingin menawarkan kepada khalayak pecinta seni bahwa sebuah karya yang lahir dari seseorang individu tidak lahir begitu saja dari satu orang perorang, tetapi juga berada dalam sebuah lingkungan sosial dan kreatif  tertentu. Kerja kolaborasi barangkali menyalahi prisnsip seni modern yang memuja personalitas karya. Bagi Farid, prinsip kerja ini lebih sesuai dengan kerja kreatifnya sebagai seorang disainer. Farid tidak saja menawarkan idiom visual pribadinya, tetapi menyandingkannya, dan sesekali mempertandingkannya dengan diom visual seniman lain. Prinsip yang sebangun dengan apa yang terjadi di kalangan street artist, yang dikenal dengan istilah ‘battle’. Karya seseorang bisa merespon karya seniman lain, atau justru melawan karya lainnya. Keasyikan bekerja sama ini meperkaya idiom visual yang muncul dalam karya-karya lukisannya.
   Kerja ini diawali dengan berdiskusi antara Farid dengan seniman yang diajaknya berkolaborasi. Setelah itu, masing-masing pihak menentukan tokoh apa yang akan dikerjakan secara kolaborasi. Pemilihan pasangan tokoh-tokoh tersebut menyesuaikan dengan hasil diskusi dengan si seniman dan mempertimbangkan gaya masing-masing seniman. Dan hal tersebut kemudian mencerminkan kecenderungan dari masing-masing seniman. Farid menggambarkannya sebagai sebuah ‘gang bang visual’. Pesta mengeroyok ramai-ramai dirinya. Dalam pesta itu, masing-masing pihak harus ‘terpuaskan’. Untuk itu proses ini diakhiri dengan dialog terakhir untuk menentukan hasil akhir karya tersebut.

Farid Stevy Asta dan gaya visualnya
    Farid banyak terpengaruh secara visual oleh street artist yang akhirnya dikenal dalam ranah seni kontemporer. Sebutlah misalnya, Dave Kinsey, yang kebetulan juga seorang disainer yang kemudian bekerja di medium-medium lain seperti lukisan. Sama seperti Farid, Dave Kinsey juga menggunakan idiom street art dan disain dalam lukisannya. Pada seniman ini, jejak pengaruhnya pada Farid terlihat pada penggunaan layer-layer yang bertumpuk pada bidang lukisan untuk menggambarkan kompleksitas kehidupan kontemporer. 
    Seniman-seniman seperti Andy Warhol, Jean Michel-Basquiat, dan Shepard Fairey menjadi influence-influence lain dalam kerja seninya. Andy Warhol dengan tatacara yang sangat berbeda dengan kerja seni sebelumnya, namun menjadi ikon seni kontemporer masakini, telah memberinya inspirasi untuk bekerja dengan idiom disain, seperti membentuk ‘factory’ yang dengan sadar memproduksi karya-karya dengan cara massal. Dari tokoh ini, Farid banyak melihat bagaimana seharusnya karya seni muncul dari semangat di luar hal-hal yang mapan.
    Shepard Fairey juga menjadi salah satu seniman kesukaannya. Tokoh ini juga adalah teman dari Dave Kinsey yang lebih banyak bekerja di ranah street art. Cara seniman ini dalam menggunakan warna-warna yang minim bisa ditengarai jejaknya pada karya Farid Stevy Asta, yang cenderung monokromatik. Sebagai seorang disainer, Farid tetap mengukuhkan keberadaan dirinya lewat idiom visual yang khas. Dengan gaya yang mengingatkan figur-figur pemujaan suku Indian, figur-figur kaku dan menjulang ke atas. Warna kecoklatan sebagai layer pengikat. Suasana monokromatis. Dari segi teknis, Farid mengeksplorasi gagasan-gagasan visual dalam dunia desain, seperti pemakaian layer warna kecoklatan sebagai pengunci semua warna yang digunakannya.
    Muncul dalam karyanya citra-citra binatang seperti anjing bulldog, babi, dan sebagainya yang dipergunakannya untuk membuat karakter dirinya sendiri. Karakter-karakter dirinya yang menunjukkan bagaimana dia bersikap terhadap lingkungan sekitarnya. Sebuah cara yang memunculkan emosi ‘raw’nya yang masih dibumbuinya lagi dengan figur-figur terpotong yang terkadang memunculkan batang tulang-tulangnya. Visualisasi ini terkesan kasar, namun dikembangkan dalam komposisi yang menarik untuk dilihat. .

Farid Stevy Asta di belantara suhu-suhu POP
farid stevy asta, nothing last forever, 2008, 140 x 200, acrylic and aerosol on canvas
    Di masakini, sebuah karya sangat sulit untuk dilepaskan dari konteks jaman dan lingkungan tempat karya dan senimannya berasal. Lingkungan tertentu menghasilkan energi kreatif tertentu pula. Dalam ranah budaya pop, nama-nama besar yang menyejarah menjadi bagian dari ikon-ikon dan monumen-monumen yang menyertai sejarah budaya manusia. Nama-nama itu menjadi bagian dari budaya masakini, berdiri tegak menjadi tanda-tanda kejayaan masalalu dan tanda-tanda untuk membaca masadepan. Ketika kita masuk dalam budaya populer itu, dalam ruangan sudah berdiri di sana, Andy Warhol dan Basquiat, Syd dan Nancy, John Lennon dan Yoko Ono, Muhamad Ali, dan bahkan Joker dan Harley Queen. Mereka berdiri menjadi monumen budaya pop yang akan terus di sana ketika kita mencoba masuk di dalamnya. 
    Citra-citra itu menjadi bagian dari kehidupan populer masakini. Apalagi dalam dunia visual yang digeluti oleh Farid Stevy Asta. Para tokoh ini dijumpainya dalam bentuk-bentuk citra yang seolah-olah hidup bersama berdampingan dengan dirinya dalam koridor budaya pop. Para tokoh legendaris itu direproduksi dalam jutaan citra copyannya yang tetap dikonsumsi sampai detik ini. Mereka menjadi ‘teks-teks’ yang tak pernah usai dinikmati oleh jutaan manusia. Dan Farid memilihnya dalam wujud citra-citra ikonik pasangan-pasangan pesohor yang mengisi dunia citra kontemporer. Itulah yang kemudian dimasuki Farid ketika dia mencoba mencari dasar atas idiom visualnya. Farid menggunakan citra-citra ikonik para pesohor itu sebagai cara dia untuk masuk dalam wilayah seni pop.
    Menyandingkan dua tokoh dalam sebuah karya bukan sesuatu hal yang baru. Tetapi pada karya Farid, persandingan itu juga dilakukan dalam gaya visual, dan dilakukan oleh dua seniman. Dengan masing-masing seniman, Farid tidak saja menawarkan karakter tokoh yang berbeda-beda, tetapi juga medium yang dipakai. Hal tersebut memberi tawaran yang sangat menarik, karena kemudian muncul karya-karya dengan medium yang tidak biasa dilakukan oleh Farid sendiri.    
    Salah satunya adalah kolaborasinya dengan Wimo Ambala Bayang, yang berbasis fotografi. Dalam karya ini, Farid bertindak sebagai objek karya Wimo Ambala Bayang. Karya yang mengambil citra ikonik dari foto pasangan John Lennon dan Yoko Ono karya Anne Leibovitz itu diapropriasi dengan sosok dirinya. Karya lain adalah persandingan antara dua karakter komik dalam serial Batman, yaitu Joker dan Harley Queen. Pasangan ini dikerjakannya bersama Bendung yang sangat kuat dalam menggarap karakter komikal. 
    Pilihan-pilihan duo itu menunjukkan pula pemahaman dan kedekatan emosi Farid terhadap isu-isu dan hasil-hasil produksi visual dalam dunia populer. Tidak saja “Dinamic Duos” itu menggambarkan pasangan-pasangan kontroversial abad ini, tetapi juga apa yang terjadi antara Farid dengan teman-teman kolaborasinya. Dia berperan sebagai pasangan masing-masing seniman itu, dan berusaha membuat kesan dan emosi yang berbeda di setiap kolaborasi. Kerja ini diakuinya cukup menantangnya. Farid sempat terkejut ketika mendapati hasil karya teman-temannya itu dalam melukis untuk kanvasnya. Para seniman muda itu mengerjakan karya kolaborasi yang akan direspon oleh Farid dengan sangat serius. Masing-masing menghadirkan gaya dan interpretasi yang biasa mereka kerjakan dalam karya pribadinya. Dalam kerja ini, diskusi yang dilakukan oleh Farid dan teman-temannya menjadi bagian dari proses kreatif yang utama, dan keberhasilannya tak lepas dari kedekatan emosional Farid dan teman-temannya sesama perupa. Itulah yang menjadi gambaran dari lingkungan darimana Farid dibesarkan sebagai salah satu perupa muda Indonesia saat ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar